Resensi Buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Resensi Buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck - Hallo sahabat INOVSTUDY | SITUS BELAJAR ONLINE, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Resensi Buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel RESENSI, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Baca juga


Resensi Buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck




Judul buku             : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penulis                    : Hamka
Penerbit                  : Bulan Bintang
Tahun terbit           : 1938
Kota terbit              : Jakarta
Jumlah halaman   : 224

       
              Buku yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal sebagai Hamka,dan terbit di kota Jakarta ini di terbitkan oleh Bulan Bintang. Buku mempunyai 224 halaman. Buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup Zainudin.
         
               Zainudin lahir dari ayah yang pemberani bernama Pendekar Sutan dan Daeng Habibah di Makasar. Ia menjadi piatu sejak kecil, sehingga ia dirawat oleh ibu angkatnya yang bernama Mak Base. Ketika remaja ia pergi ke Padang untuk mencari nenek dari ayahnya dan mencari ilmu agama. Ketika di Padang, ia dianggap orang asing, karena sudah lama tinggal di daerah yang jauh. Karena ia ditolak tinggal di rumah neneknya, Zainudin tinggal di masjid bersama para pemuda lainnya. Di padang dan Makasar, ia dikenal sebagai anak yang berbudi baik.
Di sana Zainudin tidak sengaja dan sempat berkenalan dekat dengan Hayati. Karena mereka sering bertemu, perasaan cinta pun timbul di hati keduanya. Akhirnya Zainudin berniat menikahi Hayati. Tetapi karena lamarannya dating bersamaan dengan Aziz yang lebih kaya, Hayati pun memilih Aziz untul menjadi suaminya.
         
               Karena penolakan Hayati, Zainudin sempat sakit beberapa hari dan memutuskan untuk bekerja ke daerah lain. Ia pergi ke Jakarta dan Surabaya untuk bekerja keras da akhirnya menjadi orang sukses dan mempunyai rumah dan mobil mewah serta asisten pribadi bernama Muluk. Ia berhasil mendirikan penerbitan buku karya ia sendiri. Ketika Aziz ditugaskan di Surabaya, Zainudin mengundang Hayati dan suaminya di sebuah acara dan mereka bertemu. Tetapi hubungan persaudaraan mereka tetap baik.
Tidak lama kemudian Aziz dipecat dari tempat kerjanya dan berperilaku buruk bahkan sempat bunuh diri. Hayati pun tinggal di rumah Zainudin selama beberapa bulan dan sempat meminta Zainudin untuk menikahinya.
         
             Tetapi karena hati Zainudin masih sakit lantaran lamarannya sempat ditolak ketika di Padang, ia pun menolaknya.
Hayati pun pulang ke Padang menaiki kapal Van Der Wijck yang dibiayai oleh Zainudin. Ketika di Tuban, kapal tersebut tenggelam. Zainudin yang mendengar kabar tersebut dari koran dan televise, meminta Bang Muluk untuk mengantarnyake tempat penampungan korban dengan kereta api. Ketika di perjalanan Zainudin berubah pikiran dan berniat untuk menikahi Hayati.
           
              Tetapi harapan itu sirna seketika. Kondisi Hayati yang sangat parah pada bagian kepalanya, membuat ia meninggal seketika. Ia pun dimakamkan di Surabaya.

              Buku ini sangatlah menarik untuk dibaca. Buku ini cocok dibaca untuk remaja dan dewasa maupun anak-anak. Sampulnya sangat menarik perhatian. Jadi, banyak yang tertarik untuk membacanya. Dalam buku ini, juga terdapat banyak kata-kata bijak yang dapat memotivasi kita. Namun, bahasa yang digunakan sedikit sulit untuk dipahami oleh pembaca karena, ada sebagian kata-kata yang menggunakan bahasa Melayu, jadi  pembaca  kesulitan untuk memahaminya.




Sekian dulu untuk artikel Resensi Buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk kalian semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Resensi Buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dengan alamat link http://www.inovstudy.com/2017/11/resensi-buku-tenggelamnya-kapal-van-der.html


EmoticonEmoticon